Tampilkan postingan dengan label Rinduku ... Wahai Permata Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rinduku ... Wahai Permata Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 11 Januari 2013 0 komentar

Askar Agung


Sekedar berbagi kesyukuran dan kebahagiaan yang semoga memberi inspirasi penyemangat kita untuk senantiasa berfikir dan berjiwa besar serat menata niat untuk mencari Ridha-Nya. Berikut adalah kilasan pendekatan Religiusitas Islam dan inspirasi segar para pemimpin kontemporer yang dikompilasi dari berbagai sumber, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

"Hajat dunia tidak saja pada kehadiran para pemimpin politik yang jujur namun juga para pemimpin bisnis yang kreatif dan inovatif"

Barrack Obama pernah menyampaikan pidato monumental di hari wisuda Universitas Notre Dame, South Bend Indiana pada 17 Mei 2009. Setelah dilantik selaku Presiden pertama dari kulit berwarna di sebuah negara adidaya amerika, Obama menemukan kenyataan betapa situasi nasional dan internasional yang di hadapinya amat tak nyaman. Sangat banyak ancaman global yang harus disiasati pada abad 21 ini. Mulai dari resesi ekonomi, gejala ekstrimisme dan terorisme, proliferasi senjata nuklir hingg penyebaran wabah penyakit yang tak pandang bulu dalam memangsa korbannya. Ancaman tersebut tidak mengenal batas Negara, pembeda warna kulit, atau kelompok etnis khusus. Seantero warga dunia tidak ada yang luput dari cengkeraman ini.

Dalam pidatonya kepada para wisudawan Notre Dame University tersebut Obama mendorong agar wisudawn mampu untuk tangguh menghadapi semua persoalan itu secara bersama bukan sendirian. Para wisudawan ditantang untuk memperbaiki mekanisme pasar bebas kapitalisme agar berlaku adil terhadap semua orang pencari kerja; untuk terus mencari sumber-sumber energi baru guna menyelamatkan bumi; untuk memberi kesempatan yang sama kepada generasi mendatang guna dapat menikmati pendidikan istimewa seperti sekarang.

"Apapun profesi yang akan dipilih para wisudawan, baik sebagai pegawai negeri ataupun lainnya, mereka akan terpapar oleh berbagai opini dan gagasan yang disiarkan melalui beragam jenis media yang tak pernah hadir sebelumnya. Disamping itu mereka juga akan menyaksikan perdebatan tentang isu-isu penting yang dilakukan oleh otak-otak brilyan. Bahkan Obama meyakinkan, suatu hari para mahasiswa itu akan terlibat dalam perdebatan dan penentuan kebijakan negerinya sendiri.

Untuk itu Obama menyarankan agar kaum muda menegakkan nilai yang mereka pelajari dan tanamkan dalam diri mereka semasa kuliah.“Jangan takut untuk untuk mengungkapkan pikiran anda, ketika nilai-nilai itu sedang dipertaruhkan. Pegang teguh keyakinan anda dan jadikan itu panduan dalam perjalnann anda. Jadilah anda seperti Mercusuar,” Ujar Obama penuh inspirasi. Disinilah tanggung jawab Pemimpin, jika hanya memikirkan kepentingan diri dan keluarganya sendiri, mengkompromikan nilai fundamental dengan kepentingan jangka pendek, maka nasib rakyatnya mungkin akan dikorbankan.

Bill Gates salah satu contoh lain yang juga menarik, sebagai seorang pendiri Microsoft yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi eksekutif puncak di usia 52 tahun, Beliau memilih untuk mengabdikan diri pada sebuah Yayasan untuk memajukan pendidikan dan kualitas kesehatan warga dunia, sejarah hidupnya penuh warna walaupun tidak sempat menamatkan kuliahnya di Harvard University, namun kontribusinya yang begitu besar bagi peradaban dunia jauh melebihi mereka yang bergelar sarjana.

Ungkapan berikut adalah petikan pidato Bill Gates dalam pelepasan alumni Harvard tahun 2007. Gates mengenang kepergiannya dari Harvard yang tidak diikuti dengan kesadaran sejati tentang ketimpangan didunia ini yang meliputi aspek kesehatan, kemakmuran dan kesempatan. Ratusan juta orang hidup dalam kesengsaraan.

“Saya belajar banyak di Harvard tentang ide baru dalam bidang ekonomi dan politik. Saya mendapatkan paparan mengagumkan tenatang kemajuan yang dicapai dalam bidang sains. Tetapi akhirnya saya menyadari, keungulan kemanusiaan tidak ditentukan oleh sejumlah penemuan, melainkan bagaimana penemuan itu diterapkan untuk menghilangkan ketimpangan di muka bumi,” ungkap Gates dari relung hati terdalam. Baik melalui demokrasi, pendidikan publik yang kuat, kualitas pelayanan kesehatan terbaik, atau kesempatan ekonomi yang lebih luas – upaya pengurangan ketimpangan harus menjadi pencapaian utama manusia.

Gates tampak menyesal betapa sedikit pengetahuannya tentang jutaan anak muda yang tak mendapat kesempatan bersekolah, tatkala ia drop out dari Harvard. Ia juga tak tahu apa-apa tentang jutaan orang miskin dan penderita penyakit kronis di Negara miskin-dan berkembang yang tak mampu bersuara.

Di tengah limpahan-kemewahan hidup selaku orang nomor dua terkaya di dunia, Gates terpanggil untuk membantu masyarakat miskin di seluruh dunia. Gates percaya bahwa Pemerintah di seluruh dunia harus ditekan untuk membelanjakan dana publik dari para pembayar pajak agar lebih memberi manfaat sebesarnya kepada rakyat pembayar pajak. Kita harus mencari pendekatan yang mampu mempertemukan kebutuhan pokok rakyat miskin dengan berbagai cara yang dapat memberi keuntungan bagi par pebisnis dan suara bagi para politisi sekaligus. Upaya ini bersifat terbuka dan tidak akan pernah berakhir, menurut Gates. “Namun upaya sadar untuk menjawab tantangan ini akan sanggup mengubah dunia” Gates menegaskan.

Kepada keluarga besar Harvard, Gates bertanya : Untuk apa segala bakat dan keunggulan intelektual yang mereka miliki saat ini? Tak disangkal, sejumlah fakultas, alumni, mahasiswa dan penikmat jasa Harvard telah menggunakan ilmu dan kekuasaannya untuk memperbaiki kondisi masyarakat diseluruh dunia, tapi bisakah Harvard mendedikasikan kekayaan intelektualnya untuk mengangkat derajat manusia yang tak pernah mendengar nama besar Harvard ?, tanya Gates.

Kepada pimpinan, Guru besar dan Sivitas akademika Harvard, Gates berujar retoris :

“Should our best minds be dedicated to solve our biggest problems? Should Harvard encourage its faculty to take on the world’s worst equities? Should Harvard students learn about the depth of Global poverty… the prevalence of world hunger.. the scarcity of clean water.. the children kept out of school.. the children who die for diseases we can cure? Should the world’s most privileged people learn about the lives of the world’s least privileged?

Di lain kesempatan Steve Jobs berujar :

When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you'll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.


Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything – all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart. (Steve Jobs Stanford Commencement Speech 2005).

Kegelisahan Albert Einstein :

"Mengapa ilmu pengetahuan yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sangat sedikit ? Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah menjadikan manusia sebagai budak-budak mesin, dimana setelah hari yang melelahkan, kebanyakan dari mereka pulang dengan rasa mual, dan ...harus terus gemetar untuk memperoleh ransum penghasilan yang tidak seberapa. Jawaban yang sederhana adalah, karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar".

Pidato gelisah seorang Ilmuwan dihadapan belia mahasiswa California Institute of Technology Pasadena 1931, atas Penyelewengan Sosial-Ekonomi dari Iptek modern.

Pidato RASULULLAH SAW

Jika Barrack Obama, Bill Gates, Steve Jobs juga Albert Einstein menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang diwisuda di Univeristas-universitas ternama itu, maka Rasulullah SAW juga pernah mewisuda duta-duta perdamaian yang akan menyebarkan Risalah Islam yang suci ke seluruh penjuru dunia. Singkatnya, para Pemimpin besar akan berbicara tentang isu-isu besar yang akan menentukan nasib umat suluruh jagad. Tidak pernah mereka berbicara masalah kecil, apalagi tentang gossip yang mubazir.

Sampai akhir hidupnya, Rasulullah menggumamkan kalimat pamungkas: Ummati…Ummati..Ummati! untuk menunjukkan keprihatinannya yang tak putus atas nasib kaum yang dibimbingnya. Bukan nasib diri dan keluarganya sendiri yang paling dikhawatirkan, namun nasib umatnya yang mungkin berpaling dari kebenaran sepeniggal diri beliau.

Menjelang akhir hidup Rasulullah SAW beliau pernah menyampaikan pidato yang menggariskan prinsip-prinsip kemanusiaan dan hokum antar bangsa, jauh sebelum Hugo de Grotius merumuskan Hukum Internasional, beliau bersabda :

“Perhatikanlah dengan seksama yang aku sampaikan kepadamu, sebab mungkin saja hari ini adalah kali terakhir pertemuanku dengan kalian semua di tempat ini. Jika kalian semua takut kepada Alloh SWT dan menaati-Nya, Dia akn memelihara keselamatan hidupmu, harat-bendamu, dan kehormatanmu sampai tiba saatnya Dia memanggilmu kembali kepada-Nya.”

Sekarang mari kita refleksikan pesan yang amat menggugah ini dalam diri kita khusunya para wisudawan, dan umumnya pemimpin bangsa kita dimasa kini dan masa yang akan datang. Keprihatinan Obama dan Kerendahan hati Gates merupakan barang langka. Manusia yang berada di puncak kekuasaan dan kekayaannya lalu justru melihat kelemahan dan keterbatasan dirinya untuk memecahkan berbagai masalah. Karena itu, mereka mengundang partisipasi dari seluruh masyarakatnya denga segala kelebihan dan kekutannya untuk menyumbangkan sedikit potensinya.

Rasulullah SAW mengingatkan tentang sebagian dari kebajikan Islam kepada masyarakat luas yakni untuk melindungi jiwa (protection of life), harta (wealth) dan kehormatan (dignity), ditambah lagi perlindungan atas akal dan keturunan yang menjadi dasar Tujuan utama penegakan hukum dalam Islam (Maqashid Al Syari’ah).

(Di sarikan dari Buku Regenerasi Pemimipin Bangsa dan berbagai sumber, Ppsdms Nurul Fikri 2009).


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
Jumat, 30 November 2012 0 komentar

Pupuslah Kembang Hidup Manusia Mulia


Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku :  'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bisshalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
0 komentar

Do’a Rasulullah S.A.W ditolak


'Amir bin Said dari bapaknya berkata bahwa :
"Suatu hari Rasulullah S.A.W telah datang dari daerah berbukit. Apabila Rasulullah S.A.W sampai di masjid Bani Mu'awiyah lalu beliau masuk ke dalam masjid dan menunaikan solat dua rakaat. Maka kami pun turut solat bersama dengan Rasulullah S.A.W.” Kemudian Rasulullah S.A.W berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah S.W.T :
           
Setelah selesai beliau berdoa maka Rasulullah S.A.W pun berpaling kepada kami lalu bersabda yang bermaksud : "Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T tiga perkara, dalam tiga perkara itu Dia cuma memperkenankan dua perkara saja dan satu lagi ditolak”.
           
1. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berkepanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah S.W.T.
           
2. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh A.S). Permohonanku ini telah diperkenankan oleh Allah S.W.T.
           
3. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku tidak dibinasakan karena pergaduhan sesama mereka (peperangan, pergaduhan antara sesama Islam). Tetapi permohonanku telah tidak diperkenankan (telah ditolak).


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
Senin, 01 Oktober 2012 0 komentar

Kisah Nenek dan Lembaran Daun


Semoga dengan membaca kisah berikut ini menjadikan kita semakin mencintai Nabi Muhammad, Rosululloh SAW. Allah humma sholli ala Muhammad wa ala alaihi Muhammad.

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh.

Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia lalu mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang ada sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.

"Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya ini tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."

Kisah yang diceriterakan oleh seorang Kiai Madura, D. Zawawi Imran, ini bisa membuat bulu kuduk kita merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?

" Allahumma Shollii Alaa Sayyidina Muhammad wa Alaa Alihi Sayyidina Muhammad "

Diketik ulang dari buku "Rindu Rosul", karangan Jalaluddin Rakhmat

"Harus ada segolongan dari kamu yang mengajak pada kebaikan, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan merekalah orang yang beruntung lagi bahagia."
( Qs Al-Imron. 104 )


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
0 komentar

Rasulullah SAW saja Poligami


Hakikat pertama yang tidak pernah dibantah ialah bahwa Rasulullah SAW menikah dengan istrinya yang pertama, Khadijah binti Khuwailid ketika Khadijah berumur 40 tahun sedangkan Rasulullah SAW masih berumur 25 tahun, atau menurut setengah riwayat 23 tahun.

Jika Nabi Muhammad SAW seorang lelaki yang bernafsu besar, seperti yang diandaikan oleh musuh-musuh Islam, niscaya perkawinan mereka tidak kekal selama 25 tahun sehingga Khadijah berumur  65 tahun dan baginda berumur 50 tahun.

Selama itu tidak pernah disebut sejarah bahwa baginda ingin menambah istri lagi, padahal Khadijah lebih tua sejauh 15 tahun dan baginda masih kuat beristri beberapa orang lagi menurut kebiasaan orang Arab pada masa itu.

Seorang yang bernafsu besar biasanya akan berbuat demikian. Bagi baginda, masa untuk menambah istri selama menjadi suami Khadijah memang cukup banyak, karena sudah 17 tahun nikah dengan Khadijah barulah baginda mulai menerima wahyu.

 Tetapi sebaliknya hanya sesudah Khadijah wafat barulah baginda menikah lagi, namun istri barunya itu pun bukan seorang wanita muda yang cantik, tetapi seorang janda yang bernama Suadah binti Zam'ah, yang umurnya hampir sebaya dengan Khadijah sendiri.

Apakah logik, seorang lelaki yang bernafsu besar akan memilih wanita tua untuk mengantikan tempat istri pertama yang sudah wafat? Jawabnya tentulah tidak.

Tetapi hakikat ini tidak diambil kira oleh para penulis orientalis, sebaliknya mereka membuat rumusan sendiri kononnya Nabi Muhammad SAW adalah seorang lelaki yang berwatak besar segala-galanya, termasuk nafsunya bahkan sangat romantis pula.

Tidak pernah terdengar sepanjang masa mudanya bahwa baginda pernah tergoda oleh kecantikan wanita sedangkan pada waktu itu wahyu belum turun dan wanita-wanita di sana belum menutup aurat, malah seperti di tempat lain mereka juga gemar melahirkan perhiasan tubuh mereka untuk memikat pandangan lelaki. Hanya sesudah Islam daulah islamiyah tegak di Madinah barulah amalan jahiliah itu dilarang.

Sebelum wahyu turun Nabi Muhammad SAW belum mempunyai hubungan lagi dengan Tuhannya, dan baginda tidak tertakluk pada perintah atau teguran-Nya. Dan Khadijah pun tidak mungkin dapat melarangnya beristri lagi, karena poligami adalah amalan biasa bagi golongan bangsawan Arab ketika itu.

Nyata bahwa Nabi Muhammad SAW bukan seorang lelaki biasa, tetapi seorang lelaki yang mempunyai pribadi yang luar biasa dan berakhlak mulia. Wataknya adalah watak seorang Rasul dan seorang pemimpin ummah yang paling besar dalam sejarah manusia.

Oleh itu apabila baginda nikah dengan Suadah sesudah kematian Khadijah, motif pernikahan itu bukan motif kebanyakkan lelaki lain, yaitu untuk mengganti istrinya yang pergi dengan istri atau istri-istri yang lebih baik, lebih cantik atau lebih membawa bahagia.

Sebaliknya, ketika baginda beistri lagi umur baginda sudah 50 tahun, dan Saudah, istri barunya itu lebih tua daripada umur baginda. Kemudian baginda beristri lagi berturut-turut seramai tujuh orang dalam jangka masa lima tahun, dan dalam tempo tujuh tahun baginda menikahi hingga sembilan orang istri.

Kejadian ini memang luar biasa. Secara rambang mungkin boleh dikatakan bahwa baginda seolah-olah secara tiba-tiba bertukar watak dan akhlak. Baginda menjadi gemar menambah istri dan gemar hidup dengan begitu ramai wanita, sedangkan selama lebih 25 tahun beliau cukup dengan Khadijah seorang saja.

Nyata bahwa kesemua pernikahan baginda itu semata-mata adalah sebagian daripada rancangan besar dakwahnya demi memenuhi tugas kerasulannya, sedangkan kerasulan adalah suatu tanggungjawab yang amat berat.

Oleh itu gambaran yang dilukiskan oleh para orientalis Barat dalam tulisan mereka mengenai poligami Nabi Muhammad SAW itu adalah meleset belaka, terutama bila dipadankan dengan nilai ajaran atau risalah yang disampaikannya kepada manusia.

Memang nyata sekali bahwa Muhammad SAW bukan hanya seorang lelaki yang luar biasa, bahkan sebagai Rasul pun hidupnya diatur oleh Allah swt untuk melalui liku-liku kehidupan yang tidak dilalui oleh lelaki biasa.

Di antara yang luar biasa itu ialah bahwa pernikahannya dengan Khadijah telah memberi baginda keturunan lelaki dan perempuan sampai baginda berumur 50 tahun. Keturunan baginda itu hanya dengan seorang istri saja, tidak dengan istri-istri yang lain.

Kemudian ketika baginda berumur 60 tahun tiba-tiba Mariah, jariah yang dihadiahkan kepadanya oleh Raja Mesir, melahirkan anak lelaki yang diberi nama Ibrahim, sempurna nama nindanya Nabi Ibrahim a.s.

Istri-istri baginda yang lain tidak memberi seorang pun keturunan kepadanya, pada hal di antara mereka ada yang muda dan ada yang pernah hamil dan melahirkan anak dengan bekas suami masing-masing.

Bagaimana hakikat kehidupan yang aneh ini dapat ditafsirkan oleh kita, karena jalan hidup Rasulullah SAW itu tidak menurut undang-undang alam, karena undang-undang alam biasanya memungkinkan baginda mempunyai keturunan daripada istri-istri atau salah seorang istrinya yang sembilan orang itu.

Tetapi Allah menguasai seluruh alam dan undang-undangNya. Allah melakukan sekehendak-Nya, dan Allah mengatur hidup Rasulullah SAW sedemikian rupa sehingga baginda tidak diizinkan mempunyai keturunan daripada kesemua istrinya itu lagi sesudah Khadijah kecuali, Mariah.

Sebagai suami sudah tentu jiwa Muhammad SAW pun sangat ingin beroleh seorang atau beberapa orang putra lagi, sekalipun baginda seorang Nabi dan Rasul, apalagi baginda sudah dianggap sebagai bapa bagi seluruh kaum muslimin.

Begitu sekali kehidupan baginda diatur oleh Allah hingga keinginannya itu dikabulkan juga dengan kelahiran Ibrahim ketika baginda berusia 60 tahun. Tetapi tanpa di ketahui oleh baginda, rupanya Ibrahim dikurniakan hanya untuk menghiburkan hatinya dalam usia yang lanjut itu saja, bukan untuk jadi penyambung keturunannya sesudah baginda pergi.

Maka poligami Rasulullah SAW  dengan sembilan orang istri dalam jangka masa tujuh tahun sebelum baginda wafat telah diatur oleh Allah dengan tujuan dan matlamat tertentu, yang sudah tentu tidak seperti andaian atau tuduhan musuh-musuh Islam bahwa poligaminya itu hanya didorong oleh hawa nafsu. 


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
 
;