Minggu, 03 Februari 2013 0 komentar

Mengapa Mereka Dicaci dan Dikagumi


MENJADI besar tanpa penderitaan sekaligus cacian orang, itulah kemauan banyak sekali anak muda. Dan kalau memang kehidupan seperti itu ada, tentu ada terlalu banyak manusia yang juga menginginkannya. Sayangnya wajah kehidupan seperti ini tidak pernah ada. Sehingga jadilah cita-cita menjadi besar tanpa penderitaan hanya sebagai khayalan manusia malas yang tidak pernah mencoba.

Ini serupa dengan khayalan seorang sahabat Amerika yang bertanya: kenapa Yesus tidak lahir di Amerika di abad ke-21 ini? Rekan lainnya sesama Amerika menimpali sambil bercanda: memangnya ada wanita Amerika yang masih perawan? Namanya juga canda, tentu tidak disarankan untuk memikirkannya terlalu serius. Apalagi tersinggung.

Namun bercanda atau tidak, serius atau sangat serius, kisah-kisah manusia kuat dan terhormat hampir semuanya berisi kisah-kisah penuh cacian sekaligus penderitaan. Sebutlah deretan nama-nama mengagumkan seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama. Semuanya dibikin kuat sekaligus terhormat oleh penderitaan.

Mandela menjadi kuat dan terhormat karena puluhan tahun dipenjara, disakiti serta diasingkan. Sekarang, ia tidak saja dihormati dan disegani namun juga menjadi modal demokrasi yang mengagumkan bagi Afrika Selatan. Gandhi besar dan menjulang karena terketuk amat dalam hatinya oleh kesedihan akibat diskriminasi dan penjajahan. Dan yang lebih mengagumkan, tatkala perjuangannya berhasil, ia menolak memetik buah kekuasaan dari hasil perjuangannya yang panjang, lama sekaligus mengancam nyawa.

Dalai Lama apa lagi. Di umur belasan tahun kehilangan kebebasan. Menginjak umur dua puluhan tahun kehilangan negara. Dan sampai sekarang sudah hidup di pengungsian selama tidak kurang dari empat puluh lima tahun. Setiap hari menerima surat sekaligus beritamenyedihkan tentang Tibet. Lebih dari itu, negaranya Tibet sampai sekarang kehilangan banyak sekali hal akibat masuknya pemerintah Cina.

Namun sebagaimana sudah dicatat rapi oleh sejarah, daftar-daftar kesedihan Dalai Lama ini sudah berbuah teramat banyak. Menerima hadiah nobel perdamaian di tahun 1989. Setiap kali berkunjung ke negara-negara maju disambut lebih meriah dari penyanyi rock yang terkenal. Karya-karyanya mengubah kehidupan demikian banyak orang. Sampai dengan julukan banyak sekali pengagumnya yang menyimpulkan kalau Dalai Lama hanyalah seorang living Buddha.

Hal serupa juga terjadi dengan tokoh wanita mengagumkan bernama Evita Peron. Belum berumur sepuluh tahun keluarganya berantakan karena ayahnya meninggal. Kemudian menyambung kehidupan dengan cara menjadi pembantu rumah tangga. Bosan jadi pembantu kemudian menjadi penyanyi bar. Dan bahkan sempat diisukan miring dalam dunia serba gemerlap ini. Pernikahannya dengan Juan Peron tidak mengakhiri penderitaan, malah menambah panjangnya aliran sungai air mata. Namun kehidupan Evita Peron demikian bercahaya. Tidak saja di Argentina ia bercahaya, di dunia ia juga bercahaya.

Salah satu guru meditasi mengagumkan di Amerika bernama Pema Chodron. Tidak saja bahasanya sederhana, pengungkapan idenya juga mendalam. Namun kekaguman seperti ini juga berawal dari kesedihan mendalam. Sebagaimana yang ia tuturkan dalam When Things Fall Apart, perjalanan kejernihan Pema Chodron mulai dengan sebuah kesedihan yang tidak terduga: suaminya mengaku jatuh cinta pada wanita lain dan minta segera cerai. Bagi seorang wanita setia, tentu saja ini seperti petir di siang bolong. Namun betapa menyakitkan pun beritanya, hidup harus tetap berjalan.

Dari sinilah ia belajar meditasi dari Chogyam Trungpa. Dan ini juga yang membukakan pintu kehidupan yang mengagumkan belakangan. Sehingga di salah satu bagian buku tadi, Chodron secara jujur mengungkapkan kalau mantan suaminya yang di awal seperti mencampakkan hidupnya, ternyata seorang pembuka pintu kehidupan yang mengagumkan.

Cerita Thich Nhat Hanh lain lagi. Tokoh perdamaian asli Vietnam ini mengalami banyak sekali pengalaman getir ketika perang Vietnam. Kalau soal hampir mati, atau hampir diterjang peluru panas sudah biasa. Namun tatkala membawa misi perdamaian ke Amerika, ternyata pemerintah Vietnam melarangnya kembali ke Vietnam. Dan sejak puluhan tahun yang lalu Thich Nhat Hanh bermukim di Prancis. Dan penderitaan serta kesedihan-kesedihan yang mendalam ini juga yang membuat nama Hanh demikian dikenal dan menjulang. Pernah dinominasikan sebagai pemenang hadiah Nobel perdamaian, dihormati di banyak sekali negara, dan karya-karyanya lebih dari sekadar mengagumkan.

Daftar panjang tokoh-tokoh kuat sekaligus terhormat, yang dibuat besar oleh penderitaan dan cacian orang masih bisa diperpanjang. Namun semua ini sedang membukakan pintu kehidupan yang amat berguna: penderitaan dan cacian orang ternyata sejenis vitamin jiwa yang membuatnya jadi menyala. Ini mirip sekali dengan judul sebuah buku indah yang berbunyi: Pain, the Gift that Nobody Want. Rasa sakit, penderitaan, cacian orang hampir semua manusia tidak menghendakinya. Tidak saja lari jauh-jauh, bahkan sebagian lebih doa manusia memohon agar dijauhkan dari penderitaan, cacian sekaligus rasa sakit. Namun daftar panjang kisah manusia seperti Dalai Lama, Pema Chodron sampai dengan Thich Nhat Hanh ternyata bertutur berbeda. Hanya manusia-manusia yang penuh kesabaran dan ketabahan untuk tersenyum di tengah cacian dan penderitaan, kemudian jiwanya menyala menerangi kehidupan banyak sekali orang.

Ternyata, penderitaan dan cacian orang di tangan manusia-manusia sabar dan tabah bisa menjadi bahan-bahan yang memproduksi kekaguman orang kemudian. Persoalannya kemudian, di tengah-tengah sebagian lebih wajah kehidupan yang serba instant, punyakah kita cukup banyak kesabaran dan ketabahan?

Penulis : Gede Prama


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
0 komentar

Cara Coca Cola Membaca Peluang


Tibalah saatnya Roberto Goizueta mengambil alih tampuk kepemimpinan Coca-Cola sebagai penerus si jenius Robert Woodruff. Sebagai CEO, Goizueta mewarisi perusahaan yang amat besar dengan jangkauan dunia mulai dari Patagonia hingga Portugal, dari Kolombia hingga Kathmandu. Saat itu Goizueta merasa mulai merasakan ada masalah besar dengan pasar yang telah penuh dan tak ada tempat tersisa baginya untuk membuat perusahaan bertumbuh.

Goizueta mengumpulkan top management yang ada dibawah komandonya untuk membahas tentang `soft drink' nya yang telah sukses mendominasi dunia hingga kurangnya peluang untuk perluasan pasar. Fakta dan data berbicara bahwa Coca Cola telah menguasai 45% sebagai market leader dari total pasar soft drink di dunia. Dan itu berarti mereka telah merambah hampir ke seluruh pelosok dunia.

Goizueta terdiam cukup lama dan sesekali menatap tajam satu persatu team management-nya sampai kemudian dia bertanya:"Berapa banyak cairan yang dikonsumsi oleh manusia setiap harinya?" Direksi dan senior manager yang ada di ruangan tersebut terhenyak dan segera bergerak mengumpulkan data yang diminta sang bos.

Jawabannya adalah bahwa setiap manusia membutuhkan rata-rata 64 ons cairan setiap hari dan atas pertanyaan Goizueta berikutnya terkalkulasi bahwa dari sekian cairan yang dikonsumsi oleh manusia di dunia, ternyata hanya 2% yang terbuat dari Coca Cola.

"Saudara-saudara. . masih ada pasar sebesar 98% yang belum tergarap dan itu adalah peluang besar bagi kita untuk berkembang lebih besar lagi, taklukkanlah segera!" kata Goizueta.

Itulah momentum besar bagi team Coca Cola untuk mengobservasi tenggorokan setiap pelanggannya di seluruh dunia dan lebih optimis melihat peta dunia serta menjadikannya sedemikian fenomenal di era 80an.

Written By  : Haryo Ardito


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
0 komentar

Kekayaan Hidup yang Paling Berguna


Pertanyaan reflektif paling sering yang dilontarkan manusia sepanjang sejarah, adalah kekayaan manakah yang bisa disebut paling berguna dalam hidup ? Saya sendiri termasuk orang yang cukup sering diberondong dengan pertanyaan terakhir. Klien, peserta seminar, murid, teman seperjalanan, rekan main golf atau bawahan di kantor adalah spesies manusia yang amat sering bertanya soal ini ke saya.

Sebagaimana pertanyaan reflektif lainnya, pertanyaan tentang kekayaan hidup ini juga tidak memiliki jawaban obyektif dan universal. Jawaban terhadap pertanyaan ini bersifat bergerak. Sejalan dengan kedalaman refleksi setiap orang, ada yang menyebut uang, mobil, rumah, keluarga yang penuh perhatian, badan yang sehat, fikiran meditatif atau malah yang lain.

John Clements, sebagaimana yang ia tulis dalam Personal Excellence edisi Juni 1999, menyebut kekayaan hidup paling berguna mencakup nobility, creativity, aspirations, visions, and hope for the future.

Saya cenderung menggaris bawahi hal yang terakhir : harapan akan masa depan. Hidup tanpa harapan, adalah sama saja melewati kehidupan hanya dengan menunggui matahari. Besok pagi pasti terbit di timur, dan besok sore akan tenggelam di barat. Tidak ada ketidakpastian, tidak ada kejutan, tidak ada resiko. Semuanya berjalan rutin dalam ritme yang sudah teratur.

Mirip dengan kehidupan politik di zaman orde baru. Setiap pemilu, sudah bisa diramalkan siapa partai pemenang, siapa presiden, dan siapa yang akan tersingkir. Hidup kemudian memang menjadi terkontrol namun amat membosankan. Belakangan bahkan membuat api dalam sekam meledak dengan korban yang amat menyedihkan.

Nah, mereka-mereka yang hidup rutin, tanpa resiko, menghindari ketidakpastian, takut akan kejutan, sebenarnya sama saja sedang mendisain kehidupan 'orde baru' dalam dirinya : rutin, terkontrol namun membosankan.

Bagi saya, seninya hidup justru terletak pada ketidakpastian, unsur kejutan serta resiko. Ketiganya membangkitkan harapan yang menjadi sumber energi, sekaligus menjadi pembatas yang inspiratif. Bangun di pagi hari, dalam keadaan demikian, terasa enak dan bergizi kalau masih ada yang ditunggu dan diharapkan.

Saya punya seorang rekan yang kebetulan sejak kecil hidup di lingkungan orang tua yang berada. Materi tidak ada masalah. Pekerjaan tersedia sejak kecil. Rumah, istri dan uang apa lagi. Demikian rutin dan terkontrolnya hidup orang ini, sehingga tidak lagi memiliki harapan yang layak untuk diperjuangkan. Dalam usia yang sangat muda sudah menjadi direktur. Ketika masih berpenampilan ABG sudah mengendarai kendaraan untuk eksekutif puncak. Semua merk barang mahal dan terkenal bisa ia beli. Hidup, bagi rekan ini, adalah sebuah ritme yang amat rutin dan membosankan.


Justru karena ritme terakhir inilah, kemudian ia mencari resiko dan kejutan di sektor obat terlarang. Tentu saja, semua sendi-sendi kehidupannya menjadi hancur lebur. Istri melarikan diri. Anak-anak tidak ada yang mengurus. Keluarga memandang curiga. Dan yang paling menyedihkan, sudah lebih dari empat tahun rekan tadi berada dalam perawatan untuk bebas dari ketergantungan obat terlarang.

Bercermin dari ini semua, Anda yang kebetulan baru kena PHK, masa depan karir tidak menentu, pengusaha yang perusahaannya sedang pailit, atau dicerai oleh pasangan hidup, sebenarnya sedang hidup 'kaya'. Disebut kaya, karena justru di tengah ketidakpastian dan kemungkinan kejutan inilah, hidup jadi penuh harapan dan bergairah.

Saya mensukuri sekali gerakan kehidupan yang bergerak pelan dari tangga yang amat bawah. Dari rumah kontrakan ke rumah sederhana. Dari bergelantungan di bus menjadi naik mobil sederhana. Dari tinggal di daerah kumuh menuju daerah yang lebih layak. Dan tidak tertutup kemungkinan, setelah naik kemudian kehidupan bergerak turun. Akan tetapi, di tengah-tengah kehidupan seperti inilah, harapan itu muncul menjadi darah dan energinya kehidupan.

Bangun di pagi hari tubuh penuh semangat, tidur di malam hari di tutup dengan doa yang penuh harapan, bekerja di manapun jarang mengenal kamus lelah. Mesin pendorong yang bisa membuat badan ini seperti itu salah satunya adalah harapan.

Ketika baru pertama kali berkenalan dengan Ken T. Sudarto - tokoh periklanan negeri ini, yang juga orang nomer satu di Matari Inc., yang belakangan sempat jadi boss saya - saya teringat sekali dengan lirik lagu yang beliau kagumi : to dream the impossible dream, to reach the unreachable stars.

Belakangan, saya dengar Matari Inc. memang tidak secepat dahulu pertumbuhannya. Tetapi saya yakin, Ken T. Sudarto masih kaya. Sebab, bukankah harapan adalah kekayaan hidup yang paling berguna ?.

Seorang veteran perang Vietnam yang sempat disekap di Vietnam bertahun-tahun, pernah bertutur tentang pengalaman hidupnya sebagai tahanan yang nyaris tanpa harapan. Sejumlah rekannya telah mati. Ada banyak variasi sebab yang menimbulkan kematian mereka. Dari sakit, stress, ditembak tentara Vietnam karena macam-macam sampai dengan bunuh diri.

Satu-satunya yang membedakan manusia hidup dan berhasil kembali ke Amerika, dengan mereka yang telah almarhum - masih menurut penuturan veteran perang di atas - hanya satu : harapan untuk hidup.

Anda boleh kena PHK, perusahaan pailit, dicerai pasangan hidup, kehabisan uang, atau dikejar-kejar debt collector, namun jangan biarkan diri Anda kehilangan kekayaan hidup paling berguna ini.

Penulis : Gede Prama


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
0 komentar

Be A Player


Hanya saya sendiri yang akan menyelesaikan tugas saya. Dan saya harus menunda mengharapkan orang lain menuntaskan pekerjaan saya. Karena hal tersebut mustahil.

Nasehat sang motivator

“Hanya pemain yang memungkinkan untuk mencetak goal”. Itulah penggalan penggugah emosi semangat dalam jiwa saya. Saat mengikuti pelatihan motivasi di kampus dulu. Menurut sang motivator. Dalam permainan bola, ada aturan, siapapun boleh mencetak goal dan dianggap sah oleh wasit. Selama orang tersebut adalah pemainnya. Akan tetapi, bila yang menjebolkan gawang penonton. Sudah pasti itu dinyatakan bukan goal.

Kemudian sang motivator melanjutkan. “Itu maknanya, dalam hidup ini, jadikanlah diri kita sebagai pemainnya. Bukan menjadi penonton”. Hal ini dalam konteks pencapaian - senada dengan kata bijak “Hanya Anda sendiri yang akan menyelesaikan tugas Anda. Tundalah mengharapkan orang lain menuntaskan pekerjaan Anda. Karena hal tersebut mustahil”.

Jiwa yang bertumbuh

Selain itu, manfaat memposisikan diri sebagai pemain, bukan hanya penghargaan berupa hadiah akan kita peroleh. Akan tetapi, pengalaman batin yang tidak terdapat dalam tatanan teori, juga menbadan kepada kita. Karena, kesempatan gagal dan berhasil - hanya mereka yang bertindak - akan merasakannya. Proses pergantian kejadian inilah, saya sebut dengan jiwa yang bertumbuh.

Robin Sharma dalam bukunya 101 The Great Guide menganjurkan - agar kita segera memutuskan diri sebagai pemain. Entah menjadi pemusik. Koki. Pengacara. Pemotong rumput. Pengecat rumah. Sopir. Petugas parkir. Pemetik kelapa. Tukang urut. Penunjuk jalan. Dan jenis-jenis pemarinan lainnya. Maka, pastikan, diri kita sebagai bintang utama dalam permainan tersebut.

Inspirasi film Sincan

Setelah memutuskan diri sebagai pemain. Maka, langkah selanjutnya adalah menikmati permainan tersebut. Lantas seperti apa menikmati permainannya?

Minggu 6 Mei 2012. Di rumah mertua berkumpul banyak orang - keluarga inti dari almarhum bapak mertua, dari Betawi. Dan keluarga ibu mertua dari Pacitan. Karena, minggu ini - hari berbahagia bagi kakak ipar - yakni penyematan cincin tunangan kepada wanita pilihan yang akan dijadikan pedamping hidupnya kelak.

Acara pertunangan berlangsung di rumah sang calon istri di Cilangkap. Rencananya mulai jam 11.00. Dan kami menjadwalkan berangkat dari Ciganjur jam 09.30. Selama menunggu kedatangan pihak keluarga semuanya. Dalam kesibukan merapikan dan memoles seserahan dengan bunga dari pita jepang. Adik-adik sepupu menyalankan TV dan menyaksikan film Sincan.

Enjoy the game

Terlepas Anda menyukai, menyetujui atau bahkan tidak merekomendasikan buah hati Anda menyaksikan film ini. Akan tetapi, pada episode hari ini, ada pesan hidup bermakna bagi saya. Saya tidak tau apa temanya. Namun yang saya ingat. Sincan bersama Papanya berangkat ke tempat latihan Golf, seperti lapangan dekat Gelora Bung Karno.

Di tempat latihan dan bermain golf itu. Sincan bertemu dengan seorang pegolf profesional. Sebut saja namanya Akimoro. Dia pemenang juara Asia Open Cup. Melihat pemain kawakan itu bermain di tempat orang-orang amatir melatih ketrampilannya. Sincan penasaran dan bertanya kepada Akimoro. “Kakak Akimoro, mengapa kakak bermain di sini, kakakkan pemain hebat?” tanya sincan dengan nada khasnya.

Lalu Akimoro menjawab “Adik kecil, kakak sangat senang main di sini. Dulu, sebelum kakak ikut perlombaan tingkat dunia. Kakak setiap hari berlatih di tempat ini”. Sincanpun melanjutkan pertanyaannya “Kakak, bagaimana cara agar bisa melakukan hole (memasukkan bola ke lubang dalam satu kali pukulan)?”

Akimoro menjelaskan dengan pengalaman hidupnya “Adik kecil, dengarkan ini ya. Sebelum kakak ahli melakukan hole. Kakak sering sekali gagal menggayunkan stik terbaik kakak. Sehingga, bola jatuh jauh dari sasaran. Kamu tahu kenapa? Karena kakak sibuk berfokus pada akhir dari permainan - yaitu memasukkan bola ke targetnya - akan tetapi, semenjak kakak mengubah fokus pada permainan, yang terjadi malahan, kakak menghasilkan pukulan terbaik dan tercipta hole”. 

Dan akhirnya, Akimoro menitip pesan kepada Sincan “Jadi, pesan aku kepadamu. Setiap kamu mengayunkan stick untuk mendorong bola. Maka, abaikan tujuan. Tetapi, berfokuslah pada ayunan, bola yang melayang ke udara. Karena, menikmati permainan. Lebih penting dari memasukkan bola ke lubang, Oke”. Setelah itu, akomoro meninggakan Sincan dan tempat latihan golf tersebut.

Be A Player and feel the game 100%

Bagi saya, pesan Akimoro kepada Sincan, merupakan gambaran konkret. Seperti apa contoh menikmati permainan (enjoy the game). Namun, mohon memahami. Bukan berarti, saat kita bermain melupakan target permainan. Akan tetapi, sasaran yang telah kita tentukan sebagai tujuan akhir permainan. Cukup kita sadari di awal. Setelah itu, kita menikmati setiap detik pergerakan waktu, hingga mencapai tujuan utama kita.

So, mari kita putuskan untuk menjadi pemainnya sekarang. Kemudian, kita menikmati proses permainan yang telah kita putuskan di arena kita - dengan penuh totalitas - 100%.

Penulis : Rahmadsyah Mind - Therapist Trainer Softskill


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
0 komentar

Buat Hidupmu Lebih Berarti


Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia mengambil peti minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka. Si pemilik toko mengamati-amati tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.

Bocah: Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?

Ibu (di ujung telepon sebelah sana): Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya.

Bocah: Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu.

Ibu: Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu.

Bocah: Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di antara rumah" yg berada di kompleks perumahan ibu.

Ibu: Tidak, terima kasih.

Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.

Pemilik Toko: Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan.

Bocah: Tidak. Makasih.

Pemilik Toko: Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan.

Bocah: Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja untuk Ibu tadi!

Seperti anak kecil ini, sebaiknyalah kita mengevaluasi tentang apa yang kita kerjakan kemarin untuk memastikan kualitas yg lebih baik di hari ini dan esok. Ingatlah ...... "WAKTU seperti sungai, kamu tidak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya, karena air yang telah mengalir akan terus berlalu dan tidak akan pernah KEMBALI". Untuk itu ... Buat Hidupmu Lebih BERARTI...

Sumber : Milis The Managers


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
0 komentar

Kisah Kebijaksanaan Luar Biasa dari Seorang Sherpa


Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay (pemandu/sherpa) kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

Reporter :  "Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?"

Tenzing Norgay :  "Sangat senang sekali"

Reporter : "Anda khan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?"

Tenzing Norgay : "Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya & menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia".

Reporter : "Mengapa Anda lakukan itu?"

Tenzing Norgay : "Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya".

Disekitar kita, banyak sekali orang seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.

Pepatah mengatakan, "Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yang bertepuk tangan dipinggir jalan".

Di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan dan memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan. Mereka ini cukup berbahagia dengan memberikan pelayanan dengan membantu orang lain mencapai impiannya. Mereka merasa cukup menjadi "orang-orang yang bertepuk tangan saja dipinggir jalan". Kadang, orang-orang seperti ini diperlakukan ibarat "telor mata sapi". Yang punya telur si Ayam, yang tersohor malah Sapi. Sudahkah Anda menghargai, menghormati dan mengangkat orang-orang seperti Tenzing Norgay dalam tim Anda?

Sumber : Milis The Managers


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
0 komentar

Chow Yun Fat


Seorang pemuda kerja sebagai bell boy di sebuah hotel berbintang di Kowloon. Suatu saat seorang tamu hotel datang dengan mobil mewah Rol Royce. Pemilik mobil meminta pemuda ini mencuci mobil mewah ini. Sang pemuda tidak tahu bahwa mobil ini Rol Royce yang mahal itu, yang ia tahu mobil ini bagus sekali.

Iseng-iseng dia masuk ke mobil dan membayangkan ia setir mobil keren ini. Sementara ia ada di dalam mobil sambil pegang setir, muncul pemilik hotel (atasan pemuda itu). "Hai!", kata bosnya. "Jangan main-main. Kamu tidak akan mampu beli mobil itu seumur hidupmu… Ngaca dong… Kamu tuh pegawai rendahan… Pergi sana… Kerja lagi sana…"

Betapa bos itu sangat merendahkan si pemuda. Tapi pemuda itu hanya senyum saja. Ia tak hiraukan makian bos. Malah makian bosnya membuat ia semangat kerja. Sampai suatu saat, ada casting film tahun 1980 dan pemuda ini berhasil lulus jadi pemeran utama.

Filmnya langsung meledak terkenal seluruh dunia, The Bund. Bukan itu saja, film keduanya God of The Gambler juga meledak. Sekarang ia bukan saja memiliki Rol Royce, bahkan koleksi puluhan mobil mewah dan rumah mewah. Bahkan ia adalah salah satu artis terkaya di hongkong dan dunia.

Dialah CHOW YUN FAT.

Anda tau dia bukan?
Siapapun yang merendahkan anda saat ini; jangan membuat anda runtuh. Bangkit dan tetap teguh bahwa Tuhan memiliki rencana indah buat anda. Tetaplah berpikir positif.

Author : Hadi Poernomo


Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat
 
;