Dua orang bersaudara bekerja
bersama menggarap ladang milik keluarga mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah, dan memiliki keluarga yang
cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana tidak menikah. Ketika musim
panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata. Selalu begitu.
Pada suatu hari, si adik yang
masih lajang itu berpikir, "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil
yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit." Maka,
demi si kakak, setiap malam, dia akan mengambil sekarung padi miliknya, dan
dengan diam-diam, meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya. Sekarung itu
ia anggap cukuplah untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.
Sementara itu, si kakak yang
telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adiknya. Ia berpikir, "Tidak
adil jika kami selalu membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya
istri dan anak-anak yang akan mampu merawatku kelak ketika tua. Sedangkan
adikku, tak punya siapa-siapa, tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan
miskin. Ia berhak mendapatkan hasil lebih daripada aku."
Karena itu, setiap malam, secara
diam-diam, ia pun mengambil sekarung padi dari lumbungnya, dan memasukkan ke
lumbung milik adik satu-satunya itu. Ia berharap, satu karung itu dapatlah
mengurangi beban adiknya, kelak.
Begitulah, selama bertahun-tahun
kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung
keduanya tak pernah berubah jumlah.
Sampai..., suatu malam, keduanya bertemu, ketika sedang memindahkan satu
karung ke maring-masing lumbung saudaranya. Di saat itulah mereka sadar, dan
saling menangis, berpelukan. Mereka
tahu, dalam diam, ada cinta yang sangat dalam yang selama ini menjaga
persaudaraan mereka. Ada harta, yang justru menjadi perekat cinta, bukan
perusak. Demikianlah jika bersaudara.
Niyaz Khalil
Harapan dari Seorang Sahabat

0 komentar:
Posting Komentar